Senin, 27 Januari 2014

lopografi


1.1  Latar Belakang
       Radiologi merupakan salah satu ilmu dari bidang kedokteran, yang mempelajari teknik dari pengambilan gambar foto rontgen dengan menggunakan sinar-x, pelayanan radiologi di rumah sakit sangat dibutuhkan sekali untuk menegakkan diagnosa sebagai penunjang pelayanan medis.
         Perkembangan pemanfaatan sinar X dalam bidang radiodiagnostik pun menjadi makin berkembang seiring dengan ditemukannya bahan kontras. Bahan Kontras merupakan senyawa-senyawa yang digunakan untuk meningkatkan visualisasi (visibility) struktur-struktur internal pada sebuah pencitraan diagnostic medik.
                  Bahan kontras dipakai pada pencitraan dengan sinar-X untuk meningkatkan daya attenuasi sinar-X. Atau dengan kata lain pemanfaatan bahan kontras ini dipakai untuk lebih meningkatkan radiolucent maupun radioopaque suatu gambaran organ. Bahan kontras ditemukan pertama kali pada tahun 1896 dan dipakai untuk pemeriksaan traktus digestivus.
           Dalam kegiatan praktek kerja lapangan di RS. Cipto Mangunkusumo, saya menemukan berbagai macam pemeriksaan dengan menggunakan bahan kontras, salah satunya adalah pemeriksaan LOOPOGRAFI dengan indikasi atresia ani. Oleh karena itu,saya mengangkat pemeriksaan tersebut sebagai bahan laporan dan presentasi.

1.2  Tujuan
          Untuk memenuhi tugas praktek kerja lapangan di RSCM yaitu, pembuatan laporan dan presentasi.

1.3  Ruang Lingkup                     
          Ruang lingkup yang dibahas dalam laporan ini adalah berdasarkan pengalaman selama praktek kerja lapangan di beberapa Rumah Sakit,adapun pemeriksaan LOOPOGRAFI meliputi :


Ø  Pengertian
Ø  Tujuan
Ø  Anatomi
Ø  Indikasi pemeriksaan
Ø  Alat- alat yang digunakan
Ø  Persiapan pasien
Ø  Teknik pemeriksaan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian
          Pemeriksaan radiografi pada colon yang dilakukan post colostomy yang menggunakan folley cateter, dan dimasukkan melalui lubang anus buatan yang tidak mengeluarkan feces.Colostomy adalah tindakan bedah pembuatan saluran dari colon ke dinding abdomen sebagai pengganti fungsi anus.

2.2  Tujuan
          Untuk mengevaluasi pembuatan saluran buatan antara colon dengan dinding abdomen tersebut.

2.3 Anatomi dan Fisiologi
          2.3.1 Anatomi Colon

            Usus besar terdiri dari caecum, usus tebal (colon), dan poros usus (rectum). Caecum adalah kantung kecil, di ujungnya terdapat umbai kecil yang menggantung sepanjang ± 90 mm, dan disebut usus buntu (appendix). Usus buntu tidak jelas fungsinya pada tubuh manusia.
          Usus besar terdiri dari tiga bagian: menaik (Ascending colon), melintang (Transvers colon), dan menurun (Descending colon).
            2.3.2 Fungsi Colon
            Fungsi utama usus besar adalah untuk mengabsorbsi air kembali dan untuk mengeluarkan mukus yang berfungsi untuk melumasi dan membantu mengeluarkan feses. Perjalanan melalui usus besar sangat lambat, kadang-kadang memakan waktu 24 jam. Feses berhenti di usus besar menurun dan poros usus (rectum), dan secara periodik dikeluarkan dari tubuh melalui anus. Di anus terdapat dua cincin sphincter yang menjaganya agar tetap tertutup.

            Fungsi lain dari colon yaitu :
  1. menyimpan dan eliminasi sisa makanan
  2. menjaga keseimbangan cairan dan elektrolitdengan cara menyerap air
2.4  Indikasi Pemeriksaan
            Pemeriksaan Loopografi di RSCM kasus yang saya ambil yaitu :
            Nama   : An. xxx
            Umur   : 1 tahun
            Indikasi: Atresia ani
2.5  Persiapan Alat
·   Folley cateter no. 8
·         Spuit 30 ml
·         Nacl
·         kassa
·         Kontras media :
ü   KM Urografin 76 %, yaitu :  30 cc di encerkan dengan 60 cc NaCl.
2.6  Persiapan Pasien
              Tidak dilakukan persiapan secara khusus, pasien hanya diminta puasa 4 jam sebelum dilakukan pemeriksaan, hal ini dikarenakan anus buatan yang berada pada dinding abdomen sehingga feces mudah dikeluarkan.

2.7  Teknik Pemeriksaan
1.         Foto pendahuluan :
Sebelum dilakukan pemeriksaan Loopografi dilakukan foto pendahuluan terlebih dahulu untuk melihat persiapan pasien.biasa yang digunakan adalah foto abdomen AP.
ü  Pasien recumbent, kedua lengan disamping tubuh, MSP//garis tengah kaset.
ü  FFD 100 cm
ü  CR : Vertikal tegak lurus
ü  CP : pada MSP setinggi L 3 atau kira-kira setinggi SIAS.
ü  Kriteria Gambar :
o    Kedua dinding lateral abdomen tidak terpotong.
o    Bagian atas mencakup kedua ginjal.
o    Bagian bawah tepi atas symphisis pubis.
o    Tampak musculus psoas, contour ginjal.
o    Tampak marker R/L dan identitas pasien.
2.     Pemasukan bahan kontras dengan menggunakan kateter yang dimasukkan melalui anus buatan yang tidak mengeluarkan feces.
3.     Dengan dikontrol fluoroscopy suntikan bahan kontras
4.     Dibuat foto-foto spot atau foto besar dengan posisi yang sesuai, biasanya AP   dan Lateral.
  
Proyeksi AP
ü Pasien recumbent, kedua lengan disamping tubuh, MSP//garis  tengah kaset.
ü FFD 100 cm
ü CR : Vertikal tegak lurus
ü CP : pada MSP setinggi L 3 atau kira-kira setinggi SIAS.
ü Kriteria Gambar :
1.    Tampak bahan kontras mengisi colon desendens dan sigmoid pada posisi AP.
2.    Tampak post colostomy pada sisi kiri pasien.
3.    Tampak anal dample. 

Proyeksi Lateral
ü Pasien diposisikan lateral recumbent.
ü Kedua lutut difleksikan untuk keseimbangan.
ü Kedua lengan dilipat ke atas dan tangan disatukan serta diletakkan dibawah kepala.
ü Kaset dipasang memanjang dan diberi marker R/L.
ü CR : Vertikal tegak lurus.
ü CP : 2,5 cm ke anterior dari MCL setinggi CV Lumbalis III
ü Eksposi pada saat pasien tahan nafas setelah ekspirasi penuh
ü Kriteria Gambar :
1.      Tampak bahan kontras mengisi colon desendens dan sigmoid pada posisi lateral.
2.      Tampak anal dample.


BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Pemeriksaan radiografi pada colon yang dilakukan post colostomy yang menggunakan folley cateter, dan dimasukkan melalui lubang anus buatan yang tidak mengeluarkan feces.Colostomy adalah tindakan bedah pembuatan saluran dari colon ke dinding abdomen sebagai pengganti fungsi anus.
Untuk pemeriksaan lopografi ini tidak diperlukan persiapan khusus seperti pemeriksaan colon in loop yang mengharuskan pasiennya harus puasa 1 hari sebelum pemeriksaan dimulai. Hal ini dikarenakan loopografi hanya digunakan untuk mengevaluasi saluran cerna post colostomy. Untuk pasien lopografi hanya diperlukan puasa 4 jam sebelum pemeriksaan.
Dibuat foto-foto spot atau foto besar dengan posisi yang sesuai, biasanya AP dan Lateral. Posisi ini dipakai untuk memperlihatkan saluran post colostomi dari sisi depan dan sisi samping.

3.2  Saran
Pada pemeriksaan Loopografi biasanya terjadi pada anak-anak. Sehingga dibutuhkan keterampilan dan kecekatan untuk melakukan pemeriksaan tersebut. Agar dosis radiasi yang diterima hendaknya seminimal mungkin.


Teknik Radiografi OMD (Oesophagus Maag Duodenum)



PENGERTIAN
Oesophagus Maag Duodenum adalah suatu pemeriksaan radiografi pada bagian lambung dengan menggunakan sinar-x dan bantuan media kontras positif untuk menegakkan diagnosa. Biasanya merupakan pemeriksaan satu paket dengan oesophagus dan duodenum.

BODY HABITUS
Tipe dari body habitus memberikan efek yang sangat besar terhadap lokasi organ pencernaan pada rongga abdomen. Untuk keakuratan dan konsistensi posisi dari organ pencernaan perlu diketahui karakteristik dan klasifikasi dari body habitus. Terdapat 4 kelompok dari body habitus yaitu : hypersthenic, sthenic, hyposthenic dan asthenic.


INDIKASI
• Gastritis (Radang gaster baik akut maupun kronik)
• Divertikula (Penonjolan keluar dari maag yang membentuk kantung dan banyak terjadi pada fundus)
• Hematemesis (Perdarahan)
• Neoplasma (Tumor atau kanker )
• Hernia hiatal hingga sebagian lambung tertarik keatas diafragma karena esophagus yang pendek.
• Stenosis pylorus (Penutupan atau penyempitan dari lumen pylorus)
• Bezoat / Undigested material (biasanya berupa rambut, serat sayuran atau bahan kayu)
• Ulcers (Erosi dari mukosa dinding lambung karena cairan gaster, diet, rokok, dan bakteri)
• Ulcer/ulkus/tukak (Luka terbuka pada permukaan selaput lender lambung)
• Perforasi
• Regurgitasi

KONTRA INDIKASI
• Persangkaan perforasi tidak boleh menggunakan BaSO4 tetapi menggunakan water soluble kontras (urografin, iopamiro).
• Obstruksi usus besar.

PERSIAPAN PASIEN
• Tanyakan riwayat alergi terhadap iodium maupun barium.
• Tanyakan apakah pasien mengkonsumsi obat-obatan saat ini.
• Apabila pasien wanita dalam usia produktif, tanyakan apakah pasien sedang hamil atau tidak.
• Pasien diberi penjelasan tentang pemeriksaan yang akan dilakukan (kooperatif).
• Dua hari sebelum pemeriksaan, pasien makan makanan yang lunak/rendah serat, misalnya bubur kecap untuk mencegah pembentukan gas akibat fermentasi.
• 12 jam sebelum pemeriksaan pasien minum obat pencahar agar colon bebas dari fecal material dan udara.
• Lambung harus dalam kondisi kosong dari makanan dan air, pasien puasa 8-9 jam sebelum pemeriksaan.
• Selanjutnya pasien puasa sehingga pemeriksaan selesai dilakukan.
• Pasien tidak diperbolehkan mengkonsumsi obat – obatan yang mengandung substansi radioopaque seperti steroid, pil kontrasepsi, dan lain-lain.
• Selama puasa pasien dinjurkan untuk tidak merokok dan banyak bicara untuk meminimalisasi udara dalam usus.
• Melepaskan benda-benda logam yang dapat mengganggu gambaran pemeriksaan.
• Penandatanganan Informed Consent. Petugas harus hati-hati dan selalu memastikan pasien telah diberikan penjelasan dan menandatangani informed consent.

PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN
• Pesawat x-ray dan fluoroskopi.
• Baju pasien.
• Gonad shield.
• Apron.
• Sarung tangan Pb.
• Kaset dan film ukuran 30 x 40 cm2.
• Bengkok.
• Lysolm/grid.
• X-ray marker.
• Tissue/Kertas pembersih.
• Media kontras positif = BaSO4 : air hangat (1 : 4).
• Media kontras negatif (tablet efferfecent, natrium sulfas, sprite,dan lain-lain).
• Obat emergency seperti dexametason, delladryl, dan lain-lain.
• Sendok/straw (pipet) dan gelas.

PROSEDUR PEMERIKSAAN

Single Kontras
• Penjelasan pada pasien tentang prosedur foto polos abdomen.
• Dilakukan persiapan pemeriksaan.
• Dibuat foto polos abdomen/dilakukan fluoroskopi hepar, dada, dan abdomen.
• Pasien diberi media kontras 1 gelas.
• Jika memungkinkan pasien dalam posisi berdiri, jika pasien recumbent pasien minum dengan sedotan.
• Pasien diinstruksikan minum 2 – 3 teguk media kontras, dilakukan manipulasi agar seluruh mukosa terlapisi diikuti fluoroskopi atau dibuat foto yang diperlukan.
• Setelah melihat rugae pasien minum sisa barium untuk melihat pengisian penuh dari duodenum.
• Dengan teknik fluoroskopi pasien dirotasi dan meja dapat disudutkan sehingga seluruh aspek oesophagus, lambung dan duodenum terlihat.

Double Kontras
• Setelah minum media kontras positif, pasien diberi pil, bubuk carbonat dan sebagainya untuk menghasilkan efek gas (teknik lama, sisi sedotan dilubangi sehingga pada saat minum media kontras sekaligus udara masuk ke lambung).
• Pasien diposisikan recumbent dan diinstruksikan untuk berguling–guling 4 – 5 putaran sehingga seluruh mukosa terlapisi.
• Dapat diberikan glucagon atau obat lain untuk mengurangi kontraksi lambung (lambung tidak relax).
• Dilakukan pengambilan foto dengan proyeksi sesuai yang diinginkan sama pada teknik single kontras.
• Bila menggunakan fluoroskopi diambil spot foto pada daerah – daerah yang diinginkan.

TEKNIK PEMBUATAN RADIOGRAF

Dengan Fluoroskopi
• Pasien disuruh berguling diikuti dengan fluoroskopi dilihat hingga BaSO4 melumuri seluruh permukaan lambung.
• Buat spot foto lambung posisi RAO, lateral kanan, PA, dan LPO.
• Spot foto dibuat sesuai dengan kelainan/posisi yang diperlukan.
• Setelah kontras mengisi lambung dan duodenum dibuat foto up right AP/PA.

Tanpa Fluoroskopi
• Tunggu kira – kira 5 menit, setelah kontras masuk.
• Buat radiograf RAO.
• Lihat hasilnya, bila kontras sudah memenuhi lambung, dibuat proyeksi lateral kanan dan PA
• LPO untuk melihat duodenum.
• Bila munkin dibuat up right AP atau PA.

PROYEKSI PEMOTRETAN
1. PA Oblique (RAO)
Posisi Pasien
Recumbent/prone

Posisi Obyek
• Abdomen diatur sehingga abdomen membentuk sudut 400– 700dengan tepi depan MSP.
• Lengan tangan sebelah kiri flexi ke depan.
• Knee joint flexi.


Central Ray
Tegak lurus terhadap kaset.

Central Point
Daerah bulbus duodeni
• Stenik : 1-2 inchi dari lumbal ke-2.
• Asthenic : 2-5 inchi di bawah lumbal ke-2.
• Hiperstenic : 2-5 inchi di atas lumbal ke-2.

FFD
100 cm
Ekspose : ekspirasi dan tahan nafas.

Kriteria Gambar
• Struktur ditampakkan adalah daerah lambung dan lengkung duodenum membentuk huruf C.
• Tampak bagian – bagian dari lambung bebas superposisi.
• Dapat menampakkan daerah yang mempunyai indikasi/kelainan.
• Tidak tampak kekaburan dan pergerakan.

2. Right lateral
Berfungsi memperlihatkan proses pada daerah retrogastric seperti divertikel, tumor, ulkus gastric, trauma pada perut dan batas belakang lambung.

Posisi Pasien
Pasien miring arah kanan.

Posisi Obyek
• Bahu dan daerah costae dalam posisi lateral.
• Batas atas kaset pada prosesus xiphoideus (Thorakal 9-10).
• Batas bawah kaset krista iliaka.
• Atur kaki dan dan tangan mengikuti kemiringan pasien.

Central Ray
Tegak lurus terhadap kaset.

Central Point
• Bulbus duodenum pada Lumbal ke-1.
• Stenik : 1-1,5 cm ke depan dari mid coronal plane.
• Astenic : 2 inchi di bawah Lumbal ke-1.
• Hiperstenic : 2 inchi di atas Lumbal ke-1.

FFD
100 cm
Expose : ekspirasi dan tahan nafas.

Kriteria Gambar
• Struktur yang tampak daerah lambung dan duodenum tercover celah retrogastric, pylorus dan lengkung duodenum akan terlihat jelas khususnya pada tipe hiperstenic.
• Lengkung duodenum terletak pada sekitar Lumbal ke-1.
• Dapat memperlihatkan anatomi dan kelainan yang ada.

3. PA
Berfungsi untuk memperlihatkan polip, divertikul, gastritis, pada badab dab pylorus lambung.

Posisi Pasien
Berdiri/prone

Posisi Obyek
• MSP pada pertengahan meja/kaset.
• Batas atas kaset pada prosesus xiphoideus (Thorakal 9-10).
• Batas bawah kaset SIAS diyakinkan tidak ada rotasi abdomen.

Central Ray
Tegak lurus terhadap kaset.

Central Point
• Pada pylorus dan bulbus duodeni.
• Stenik : 1-2 inchi dibawah Lumbal ke-2 menuju lateral batas costae dan 1 inchi kekiri dari columna vertebrae.
• Astenik : 2 inchi dibawah Lumbal ke-2.
• Hiperstenik : 2 inchi di atas level duodenum.

FFD
100 cm
Expose : ekspirasi dan tahan nafas.

Kriteria Gambar
• Struktur yang tampak daerah lambung dan duodenum.
• Korpus dan pylorus tercover.
• Struktur gambar dapat menampakkan jaringan dari lambung dan duodenum.
• Tampak struktur anatomis sesuai dengan kelainan dan patologi yang ada.

4. AP Oblique(LPO)
Berfungsi bila digunakan double kontras akan dapat memperlihatkan dengan jelas batas antara udara dengan dinding pylorus dan bulbus sehingga jelas untuk gastritis dan ulkus.

Posisi Pasien
Pasien recumbent punggung menempel kaset.

Posisi Obyek
• Dari posisi supine dirotasikan 300– 600 dengan bagian kiri menempel meja
• tungkai difleksikan untuk menopang
• Batas atas kaset pada prosesus xiphoideus (Thorakal 9-10).
• Batas bawah kaset krista iliaka.

Central Ray
Tegak lurus terhadap kaset.

Central Point
Pertengahan krista iliaka.
Stenik : Lumbal ke-1
Astenik : 2 inchi dibawah Lumbal ke-1 mendekat mid line
Hiperstenik : 2 Inchi diatas Lumbal ke-1

FFD
100 cm
Expose : ekspirasi dan tahan nafas.

Kriteria Gambar
• Struktur yang tampak daerah lambung dan duodenum.
• Bulbus duodenum tanpa superposisi dengan pylorus.
• Fundus tampak tertempeli BaSO4.
• Pada double kontras tampak batas body dan pylorus dengan batas udara.
• Tidak ada pergerakan dan kekaburan gambaran lambung dan duodenum. 


STUDI KASUS


Nama                                                   :  NURDJANI
Usia                                                     :  69 tahun
Tanggal pemeriksaan                           :  30 juni 2010-07-05
Pemeriksaan                                        :  OMD
Dokter pengirim                                  :  DR. RSCM
Keterangan klinis                                :  riwayat ERCP tidak dapat masuk
No. Pemeriksaan                                 :  1014799U

Telah dilakukan pemeriksaan OMD dengan kontras hasil sebagai berikut:

Pasien minum kontras barium, tampak fase kontras lancar mengisi esofagus sampai dengan gaster. Tampak kontras sedikit tertahan di esofagus setinggi vetebra th 5-6 tepat diatas bronkus utama kiri namun dengan peristaltik kontras perlahan mengalir ke distal hingga ke gaster dan duodenum.

Esofagus:
Kalibar esofagus baik, dinding reguler. Tampak gambaran additional esofagus sisi kiri diatas bronkus utama kiri. Tdak tampak gambaran shoulder sign maupun apple core sign.

Gaster
Bentuk dan ukuran baik, mukosa dan rugae gaster baik. Tidak tampak additional shadow maupun feeling defect

Duodenum
Bentuk dan ukuran baik, mukosa reguler , tidak tampak additional shadow maupun feeling defect

Kesimpulan
Divertikel esofagus setinggi th 5-6 tepat di atas bronkus utama kiri. Tidak tampak kelainan radiologis pada gaster dan duodenum


3.1    Kesimpulan
OMD, Oesophagus Maag Duodenum, adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan pada Oesophagus (O, kerongkongan), Maag (M, lambung), dan Duodenum (D, usus 12 jari), dengan teknik fluoroskopi-radiografi
Indikasi, yang perlu pemeriksaan ini adalah; 1. Adanya gangguan proses menelan. 2. Muntah-muntah atau rasa mual yang belum diketahui sebabnya. 3. Kecurigaan varises Oesophagus. 4. Kecurigaan massa exstralumin atau intralumin 5. Melacak sebab perdarahan tersembunyi
Kontra Indikasi, dilarang untuk pemeriksaan ini adalah; Perdarahan gastrointestinal yang masih berlangsung
Panduan bagi pasien. Pada orang dewasa, sebelumnya berpuasa sekitar 6 jam. Sebaiknya opname untuk dipasang NGT dan infus untuk mencegah dehidrasi. Beberapa saat sebelum pemeriksaan minum larutan kontras yang diberikan petugas pemeriksaan. Larutan kontras ada 2 gelas, pertama agak pekat untuk melumuri permukaan lambung yang berisi barium dan kedua yang lebih encer. Sedangkan untuk bayi, akan diberikan cairan urografin

Selasa, 21 Januari 2014

radiobiologi


• Tujuan proteksi radiasi adalah untuk mencegah efek deterministik klinis yang signifikan dengan menjaga dosis di bawah ambang batas praktis dan untuk membatasi risiko efek stokastik (kanker dan efek herediter) ke tingkat yang wajar dalam kaitannya dengan kebutuhan masyarakat, nilai, dan manfaat yang diperoleh .

• Pembenaran adalah salah satu prinsip dasar proteksi radiasi, sebuah praktek yang melibatkan paparan radiasi harus menghasilkan manfaat yang cukup untuk individu terpapar atau kepada masyarakat untuk mengimbangi kerugian radiasi yang ditimbulkannya.

• faktor bobot radiasi (WR) adalah nilai pendekatan terhadap efektivitas biologis relatif, berlaku untuk dosis rendah dan relevan dengan efek carsinogenesis dan turun-temurun. Radiasi faktor pembobotan yang dipilih oleh ICRP berdasarkan nilai-nilai eksperimental efektivitas biologis relatif dengan faktor menghakimi besar.

• Dosis Ekuivalen adalah produk dari dosis serap dan faktor radiasi pembobotan. Unit-unit adalah Sievert atau rem untuk dosis terserap dalam abu-abu atau rad. ICRP telah merekomendasikan nama baru untuk kuantitas-radiasi tertimbang dosis dan sedang mempertimbangkan nama baru untuk unit.

• Faktor pembobotan Jaringan (WT) mencerminkan kerentanan dari berbagai organ atau jaringan untuk efek karsinogenesis atau keturunan.

• Dosis efektif adalah jumlah dosis yang setara tertimbang untuk semua jaringan dan organ iradiasi dikalikan dengan faktor bobot jaringan yang sesuai.

• dosis setara Committed adalah integral lebih dari 50 tahun dosis setara setelah asupan dari radionuklida.

• dosis efektif kolektif adalah kuantitas untuk populasi dan adalah jumlah dari dosis yang efektif untuk semua anggota populasi tersebut. Unit ini orang-Sievert (orang-rem).

• dosis offective Kolektif berkomitmen juga kuantitas untuk populasi dan adalah jumlah dari dosis efektif berkomitmen untuk seluruh anggota populasi.

• Semua paparan radiasi diatur oleh ALARA (serendah mungkin archievable) prinsip.
• Tidak ada pajanan harus diijinkan sebelum 18 tahun.
• Dosis efektif dalam 1 tahun tidak melebihi 50 mSv (5 rem) (NCRP).

• seumur hidup dosis efektif Pekerja individu tidak boleh melebihi umur dalam tahun x 10 mSv (1 rem) (NCRP).

• kontrol khusus untuk wanita pekerjaannya terekspos tidak lagi dianjurkan sampai kehamilan dinyatakan.

• Secara internal radionuklida disimpan menimbulkan masalah khusus untuk perlindungan embrio atau janin, perawatan khusus harus diambil untuk membatasi asupan.
Eksposur Darurat

• kerja biasanya membenarkan dosis yang melebihi batas yang direkomendasikan hanya jika tindakan menyelamatkan nyawa yang terlibat. Relawan dari kalangan pekerja yang lebih tua, dengan umur yang rendah akumulasi dosis efektif harus dipilih dalam keadaan darurat di mana pemaparan mungkin sampai 0,5 Sv (50 rem). Jika pemaparan mungkin exeed 0,5 (50 rem), pekerja harus diberi konseling tentang konsekuensi jangka pendek mungkin.

• Untuk tujuan pendidikan atau pelatihan, kadang-kadang mungkin diinginkan untuk menerima paparan radiasi dari youngers orang dari 18 tahun, dalam hal batas dosis efektif tahunan 1 mSv (100 rem) harus dipertahankan.

• tahunan batas dosis efektif bagi anggota eksposur jarang, di mana batas mungkin 5 mSv (500 mrem). Medis Sinar-X dikeluarkan dari keterbatasan ini karena mereka diasumsikan untuk memberikan keuntungan pribadi.

• Untuk efek deterministik, batas dosis untuk anggota masyarakat umum adalah 50 mSv (5 rem) ke tangan dan kaki, ke daerah-daerah lokal dari kulit, atau pada lensa mata.

• radon dalam ruangan yang dianggap masalah yang paling penting yang melibatkan paparan radiasi dari masyarakat umum. Tindakan perbaikan di rumah dianjurkan oleh EPA jika konsentrasi radon melebihi 148 Bq/m3 (4 pCi / L).

• dosis individu diabaikan adalah dosis di bawah ini yang pengeluaran lebih lanjut untuk meningkatkan proteksi radiasi adalah tidak beralasan. Dosis individu diabaikan adalah dosis efektif tahunan sebesar 0,01 mSv (1 mrem), yang membawa risiko antara 10-6 dan 10-7 dari carcinogesis atau efek keturunan.

• Sebuah seragam seluruh tubuh dosis setara dengan 1 Sv (100 rem) untuk pekerja radiasi dewasa diasumsikan mengakibatkan kerugian total sekitar 4,7 x 10-2 per Sievert. Ini dibuat dengan sebuah risiko efek herediter yang parah.

• Dosis setara rata-rata tahunan untuk pekerja radiasi dipantau adalah sekitar 2 mSv (200 mrem). Hal ini melibatkan kerugian total sekitar 2, x 10-4 yang sebanding dengan risiko tahunan kecelakaan fatal di industri yang "aman", seperti perdagangan atau jasa pemerintah.

• Para NCRP dan ICRP berbeda dalam dua rekomendasi penting:

1. Batas efektif dosis untuk pajanan (efek stokastik): NCRP merekomendasikan batas seumur hidup kumulatif usia x 10 mSv (1 rem), dengan batas pada suatu tahun dari 50 mSv (5 rem). ICRP merekomendasikan batas dari 29 mSv (2 rem) per tahun atau setara dengan periode didefinisikan dari 5 tahun, dengan batas pada suatu tahun dari 50 mSv (5 rem).
2. Batas dosis untuk embrio berkembang atau janin sekali kehamilan dinyatakan: NCRP merekomendasikan batas bulanan 0,5 mSv (50 mrem) untuk cikal bakal janin. ICRP merekomendasikan batas dari 2 mSv (200 mrem) ke permukaan perut wanita tersebut untuk sisa kehamilan.

Minggu, 19 Januari 2014

DR



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perkembangan teknologi semakin maju. Dimulai dari manual menggunakan tenaga manusia, berlanjut ke automatic analog, hingga ke system digital, dimana semua dikerjakan oleh alat digital secara otomatis. Perkembangan teknologi tak hanya berkembang pada alat elektronik dan rumah tangga, perkembangan juga merambah ke bidang kedokteran, dimana semua mulai menggunakan alat secara otomatis dengan system digital, termasuk di dalamnya pada unit radiologi.
Teknologi berkembang dari system processing sera manual, beralih keotomatis, hingga menggunakan system otomatis secara keseluruhan hingga ke pesawat x-ray. Perkembangan itu dinamakan digital direct radiography. Oleh karena itu, kami mencoba untuk membahas masalah mengenai Digital direct Radiography
B.     Tujuan
Digital radiografi menggunakan perangkat pengambilan gambar digital yang dapat memberikan manfaat pratayang gambar secara cepat dan tersedia; penghapusan langkah pemrosesan film dengan cepat, yang membuatnya lebih mudah selama eksposur, serta kemampuan untuk menerapkan teknik pemrosesan citra khusus yang meningkatkan tampilan keseluruhan gambar.







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi
Sebuah bentuk pencitraan sinarX, dimana sensor-sensor sinar-X digital digunakan menggatikan film fotografi konvensional. Dan processing kimiawi digantikan dengan sistem komputer yang terhubung dengan monitor atau laser printer.
B.     Komponen Digital Radiography
1.      X-ray source
Sumber yang digunakan untuk menghasilkan X-ray pada DR sama dengan sumber X-ray pada Coventional Radiography. Oleh karena itu, untuk merubah radiografi konvensional menjadi DR tidak perlu mengganti pesawat X-ray.
2.      Detektor
Detektor berfungsi sebagai Image Receptor yang menggantikan keberadaan kaset dan film. Ada dua tipe alat penangkap gambar digital, yaitu Flat Panel Detectors (FPDs) dan High Density Line Scan Solid State Detectors.
a.       Flat Panel Detector
FPDs adalah jenis detektor yang dirangkai menjadi sebuah panel tipis. Berdasarkan bahannya, FPDs dibedakan menjadi dua, yaitu
·         Amorphous Silicon
Amorphous Silicon (a-Si) tergolong teknologi penangkap gambar tidak langsung karena sinar-X diubah menjadi cahaya. Dengan detektor-detektor a-Si, sebuah sintilator pada lapisan terluar detektor (yang terbuat dari Cesium Iodida atau Gadolinium Oksisulfat), mengubah sinar-X menjadi cahaya. Cahaya kemudian diteruskan melalui lapisan photoiodida a-Si dimana cahaya tersebut dikonversi menjadi sebuah sinyal keluaran digital. Sinyal digital kemudian dibaca oleh film transistor tipis (TFT’s) atau oleh Charged Couple Device (CCD’s). Data gambar dikirim ke dalam sebuah computer untuk ditampilkan. Detektor a-Si adalah tipe FPD yang paling banyak dijual di industri digital imaging saat ini.
·         Amorphous Selenium (a-Se)
Amorphous Selenium (a-Se) dikenal sebagai detektor langsung karena tidak ada konversi energi sinar-X menjadi cahaya. Lapisan terluar dari flat panel adalah elektroda bias tegangan tinggi. Elektrode bias mempercepat energi yang ditangkap dari penyinaran sinar X mealui lapisan selenium. Foton-foton sinar-X mengalir melalui lapisan selenium menciptakan pasangan lubang electron. Lubang-lubang elektron tersebut tersimpan dalam selenium berdasarkan pengisian tegangan bias. Pola (lubang-lubang) yang terbentuk pada lapisan selenium dibaca oleh rangakaian TFT atau Elektrometer Probes untuk diinterpretasikan menjadi citra.

b.      High Density Line Scan Solid State device
Tipe penangkapan gambar yang kedua pada DR adalah High Density Line Scan Solid State device. Alat ini terdiri dari Photostimulable Barium Fluoro Bromide yang dipadukan dengan Europium (BaFlBr:Eu) tatu Fosfor Cesium Bromida (CsBr). Detektor fosofor merekam energi sinar-X selama penyinaran dan dipindai (scan) oleh sebuah dioda laser linear untuk mengeluarkan energi yang tersimpan yang kemudian dibaca oleh sebuah penangkap gambar digital Charge Coupled Devices (CCD’s). Image data kemudian ditransfer oleh Radiografer untuk ditampilkan dan dikirim menuju work stasion milik radiolog.




3.      Analog-Digital Converter
Komponen ini berfungsi untuk merubah data analog yang dikeluarkan detektor menjadi data digital yang dapat diinterpretasikan oleh komputer.
4.      Computer
Komponen ini berfungsi untuk mengolah data, manipulasi image, menyimpan data-data (image), dan menghubungkannya dengan output device atau work station.
5.      Output Device
Selain monitor, output device dapat berupa laser printer apabila ingin diperoleh data dalam bentuk fisik (radiograf). Media yang digunakan untuk mencetak gambar berupa film khusus (dry view) yang tidak memerlukan proses kimiawi untuk mengasilkan gambar.
Gambar yang dihasilkan dapat langsung dikirimkan dalam bentuk digital kepada radiolog di ruang baca melaui jaringan work station. Dengan cara ini, dimungkinkan pembacaan foto melaui teleradiology.
C.     Prinsip Kerja
Prinsip kerja Digital Radiography (DR) atau (DX) pada intinya menangkap sinar-X tanpa menggunakan film. Sebagai ganti film sinar X, digunakan sebuah penangkap gambar digital untuk merekam gambar sinar X dan mengubahnya menjadi file digital yang dapat ditampilkan atau dicetak untuk dibaca dan disimpan sebagai bagian rekam medis pasien.
D.    Kelebihan DR
1.      Cepat dan efisien karena tidak membutuhkan kamar gelap untuk pencetakan gambar.
b. Hasil lebih akurat.
2.      Sistem sinar-X (pesawat) dapat tetap digunakan dengan dilakukan moifikasi.
d. Tidak membutuhkan ahli komputer karena perangkat lunak yang digunakan untuk mengatur image mudah digunakan.
3.      Angka penolakan film dapat ditekan.
4.      Dapat digunakan untuk radiografi mobile X-Ray unit dengan detektor digital (flat digital).

E.     Kekurangan DR
1.      Dibutuhkan dana yang besar untuk mengganti fasilitas radiografi konvensional menjadi digital.
2.      Kesalahan faktor eksposi yang terlalu parah tidak dapat diperbaiki.
3.      Walaupun diklaim dapat mengurangi dosis yang diterima pasien, digital radiografi justru lebih sering meningkatkan dosis pasien, karena
ü  Over eksposure tidak akan terdeteksi (dapat dikurangi dengan mudah dalam proses komputer). Sehingga radiografer cenderung menambah faktor eksposi.
ü  Pengulangan pemeriksaan (sebelum dicetak) tidak akan menambah jumlah film yang digunakan, sehingga menurunkan tingkat kehati-hatian radiografer.











BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sistem Digital direct Radiografi merupakan system terorganisir dimana semua perangkat mulai pesawat sinar-x, computer, hingga penyampaian ke radiolog terhubung menjadi 1. Perbedaan system digital direct radiologi dengan system radiologi yang lain adalah pada digital direct radiologi sudah tidak menggunakan kaset. Selain itu system processing sudah menggunakan system komputer, dimana semuanya diatur dalam komputer. Dengan digital direct radiografi, antara ruang radiographer dan radiolog sudah terhubung sehingga tidak diperlukan mobilitas dari radiolog atau radiographer.
B.     Saran
System Digital Direct Radiografi seluruhnya menggunakan system komputerisasi dan dilakukan secara otomatis. Dengan digital radiografi ini, radiographer dimudahkan untuk berkomunikasi dengan radiolog karena antara radiographer dan radioog dihubungkan dengan jaringan internet. Namun, biaya operasional penggunaan system ini masih sangat mahal, sehingga apabila memiliki dana yang cukup, lebih baik menggunakan system ini, namun apabila dana yang dimiliki tidak mencukupi, bias menggunakan alternative CR (computer radiologi), karena tidak perlu mengganti pesawat lama.